• 2 years ago/26 Aug 2019

Minim Fasilitas, Rumah Sakit Jiwa Abepura Papua Perlu Relokasi

Rumah Sakit Jiwa Abepura menjadi satu-satunya rumah sakit kejiwaan di Provinsi Papua. Dengan memiliki 104 bangsal, jelas rumah sakit kejiwaan itu tak layak lagi dihuni. Apalagi hampir semua pasien rujukan kejiwaan pada 28 kabupaten dan 1 kota di Papua dirujuk ke rumah sakit yang dikelola pemerintah itu.

Dibangun di atas lahan dua hektare dan terletak di tengah pemukiman warga di sekitar Tanah Hitam, Distrik Abepura, rumah sakit kejiwaan saat ini perlu dilakukan relokasi lahan.
 
 
“Saat ini lahan dua hektare dibagi untuk pelayanan pasien dan perumahan pegawai. Ini sudah tidak layak,” kata Kepala Rumah Sakit Jiwa Abepura, Daniel Lukas Simunapendi, Senin (9/7).
 
 
Daniel menambahkan fasilitas dan ruang rawat inap minim menjadi kendala dalam pelayanan kepada pasien. Rencananya, jika perubahan APBD 2018 disetujui, rumah sakit jiwa akan pindah ke Koya dengan lahan 10 hektare dan dilengkapi pelayanan rehabilitasi kepada pasien narkoba.
 
 
“Pelayanan di rumah sakit ini gratis. Kami segaja tak pungut biaya, sebab kebanyakan pasien kejiwaan golongan ekonomi menengah ke bawah,” ujarnya.
Rata-rata pasien kejiwaan di rumah sakit tersebut berusia produktif dan berjenis kelamin perempuan. Stress berat menjadi penyebab pasien dirawat pada rumah sakit ini, termasuk stress pada lingkungan pekerjaan, rumah tangga, sekolah, dan kampus.
 
 
“Kami juga kekurangan dokter. Saat ini dokter spesial kejiwaan yang melayani pasien berjumlah tiga orang dan dua orang dokter umum. Idealnya dokter umum ada enam orang dengan banyaknya pasien saat ini,” kata Daniel.